Saturday, 23 August 2014

TERTIPU OLEH DIRI SENDIRI by Jaya Setiabudi

Berikut ini adalah artikel yang saya ambil dari websitenya mas Jaya Setiabudi ( jayasetiabudi.net) yang begitu menyentuh sehingga sayang kalau ngak saya share di blog saya.

Nasihat dari Jaya Setiabudi agar kita tidak tertipu oleh diri sendiri. Yuk kita simak..
—————————————————–
 photo JayaSetibudi.jpg
Belasan tahun yang lalu, saat saya masih duduk di bangku kuliah di Surabaya, saya sempat mengikuti pengajian rutin, yang dikelola oleh sebuah pondok pesantren ternama di Jawa Timur. Bukan keilmuan agama yang akan saya bicarakan disini. Tapi ada suatu pelajaran yang sangat berharga bagi saya tentang ‘kesombongan’! Seperti kebanyakan orang yang baru keluar dari ‘sekolah’ dengan segudang idealisme, perilaku sayapun berubah drastis. Setiap melihat suatu kejadian yang tidak ‘agamis’, spontan saya ‘nyebut’ kalimat Allah. Ada seorang (wanita) primadona kampus, sebut saja Susi (bukan nama sebenarnya). Saat itu, ia sedang berpakaian seronok dan bercengkerama mesra dengan pacarnya, yang tentu saja bukan muhrimnya. Begitu saya melihat kejadian itu, langsung keluar dari mulut saya ”masya Allah (kata yang sering diucap saat melihat sesuatu yang buruk)…!” Lepas dari kesalahkaprahan saya menggunakan kata itu (harusnya untuk suatu kekaguman), dalam hati kecil saya, terbesit anggapan bahwa ”Dia itu MAKSIAT, sedangkan saya lebih baik dari dia”.
Suatu saat…
…Susi datang bersama kawan-kawan yang lain (yang berjilbab), untuk belajar dengan saya guna menghadapi ujian semester yang segera datang. Baru kali itu Susi datang belajar ke tempat saya. Seperti biasa, pakaian Susi tergolong ketat, membuat saya istighfar terus, (kembali lagi) sambil mencemooh dirinya di hati saya. Pertemuan hari pertamapun selesai. Mereka berjanji akan melanjutkan belajar dengan saya di rumah kos saya esok harinya. Bak Fahri (dalam Ayat-ayat Cinta), Jayapun jadi idola wanita saat itu, narsis euy! Keesokan harinya, tak disangka, Susi datang ke tempat kos saya mendahului kawan-kawan lainnya. Setelah sejenak terdiam karena canggung, Susi berkata,”Jay, sebenarnya dari dulu aku pengin belajar sama kamu, tapi…!” Karena penasaran, saya tanya,”Tapi kenapa?” Dengan wajah tertunduk malu dan suara lirih ia menjawab,”Aku malu ketemu sama kamu! Aku merasa diriku ini ’kotor’, sedangkan kamu itu ’bersih’ dan alim”.
”Astaghfirullah Al’Adziim”, saya nyebut dalam hati dengan muka saya yang memerah, air mata yang hampir menetes. Sejenak saya berfikir,”Seandainya saat itu Allah mencabut nyawa kita berdua, mungkin sayalah yang pantas masuk neraka dan dia yang pantas masuk surga!” Koq bisa begitu? Ya, karena dibalik ’baju alim’ saya, terdapat ’kotoran hati kesombongan’. Sebaliknya, Susi yang merasa dirinya ’kotor’ tidak memiliki pikiran kotor terhadap orang lain. Jadi menurut saya, Susilah yang lebih ’suci’ dari saya.
Bukankah semua agama mengakui bahwa iblis, yang hampir sepanjang hidupnya taat, tidak dapat masuk surga karena ’kesombongannya’, karena merasa dirinya lebih unggul dari makhluk Tuhan lainnya? Sementara Nabi Adam, meskipun berbuat dosa, diijinkan masuk ke surga karena kerendahan hatinya? Guru saya pernah memperingatkan untuk berhati-hati terhadap suatu penyakit, yang disebut ’Tertipu oleh diri sendiri’. Penyakit ini justru akan muncul saat kita bertambah ilmu dan bertambah amal. Tapi ilmu dan amal itulah yang membuat kita terjerumus. Semoga kita terhindar dari hal yang demikian!
”Daripada sibuk melihat aib orang lain, sibuklah melihat aib sendiri!”

Friday, 11 July 2014

Istri Yang Menyejukan

Istri yang menyejukan bagi Suaminya adalah sambutan yang manis ketika kembalinya suami dari bekerja, bepergian, atau kemana pun dia pergi, menyambut dia dengan baik. Temui suami Anda dengan wajah yang riang gembira. Bersolek dan pakailah wewangian. Kabarilah dia dengan kabar-kabar baik yang menggembirakan. Tahan diri Anda untuk menyampaikan berita-berita buruk, setidaknya sampai dia telah beristirahat dengan cukup. Berusaha keraslah untuk menyajikan makanan-makanan bermutu, dan sajikanlah selalu tepat waktu. itulah sebagian kecil dari sifat Istri yang menyejukan hati sang Suami.

Monday, 7 July 2014

Tips Memulai Usaha (Berwirausaha)

Tips Memulai Usaha (Berwirausaha), Khususnya Bisnis Kuliner (Kafe, Resto, Angkringan, dll)

Iseng2 nulis dari pengalaman dan sharing2nya temen2, berikut rangkuman:

Tips Memulai Usaha (Berwirausaha), Khususnya Bisnis Kuliner (Kafe, Resto, Angkringan, dll)

Berikut langkah-langkah yg diperlukan untuk memulai usaha (berwirausaha) khususnya bisnis kuliner, sptkafe, resto, angkringan, dll, secara umum:

1. Tentukan bisnis yang ingin Anda buat, pertajam konsepnya dengan disesuaikan target pasar/konsumennya. (Due date: max. 1 minggu)

2. Dengan dasarpoin no 1, siapkan buku catatan dan pulpen/pensil, kamera, dan kalkulator. Kemudian cobalah survey 4-5 usaha sejenis. Paling asyik kalau bisnis kuliner, karena untuk sementara, Anda boleh libur diet dengan alibi ini.Hehe.. Max. 3 hari, karena lebih dari itu, bisa overweight.